Kamis, 17 November 2011

MENINGKATKAN SPIRITUALITAS UNTUK MENYAMBUT KEDATANGANNYA


Kebaktian Umum
Zefanya 1:7, 12-18; Mazmur 90 :1-8 (9-11), 12; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 25:14-30

Spiritualitas selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bernuansa rohani. Bila seseorang aktif pelayanan dan rajin ke gereja, banyak orang yang akan berpendapat “orang tersebut kehidupan spiritulitasnya tinggi. Belum tentu! Kehidupan spiritual tidak hanya diukur oleh kegiatan-kegiatan gerejawi. Spiritualitas memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekedar rutinitas kerohanian. Formasi spiritualitas diawali dengan relasi yang benar dengan Allah. Relasi yang benar ini hanya dapat terjalin jika kita bertemu dengan Allah dalam jangka watu yang teratur dari hari ke hari.
          Dunia kita adalah dunia yang penuh dengan kebisingan. Hampir-hampir tidak ada lagi waktu yang benar-benar tenang dan teduh. Dalam keadaan seperti ini banyak tindakan yang diambil demi mempertahankan relasi yang benar dengan Allah. Pertama, mencari Tuhan dalam keteduhan. Bertemu Tuhan dalam diam dan teduh. Susana seperti ini hanya dapat ditemui pada pagi hari ketika aktifitas belum dilakukan. Kedua, mengasingkan diri. Ada yang dalam jangka waktu pendek (retreat) dan waktu jangka panjang (bertapa, semedi, rumah pastori para biawaran/biarawati, kelompok persaudaraan Taize, dan komunitas-komunitas katholik lainnya yang mengutamakan hidup dalam diam, berbicara seperlunya dan terus menerus melakukan refleksi diri. Dalam pengasingan diri dari keramaian ini mereka berusaha mencari Tuhan. Ketiga, tetap berada dalam dunia pekerjaan dengan keyakinan bertemu dengan Tuhan lewat karya nyata dalam masyarakat. Bagian yang ketiga berarti menampakkan relasi yang benar dengan Tuhan melalui pekerjaan, yakni Spiritualitas di tempat kerja. Jadi jelas bahwa spiritualitas tidak hanya berbicara mengenai kuantitas kegiatan rohani tetapi pada usaha memelihara relasi yang benar dengan Allah melalui 3 usaha tadi, mencari Tuhan dalam keteduhan, mengasingkan diri dan Spiritualitas di tempat kerja.
Bangsa Yehuda di dalam Zefanya 1 menunjukkan kehidupan spiritual yang sangat merosot. Bangsa Israel sedang berada dalam kehidupan spiritual yang buruk akibat pemerintahan raja Manasye dan Amon dengan agama sinkritisme (percampuran penyembahan kepada Tuhan dan penyembahan berhala). Raja Hizkia, raja sebelum raja Manasye telah berhasil membawa kembali bangsa Israel dalam hubungan yang benar dengan Allah. Hal dibuktikan dengan cara Allah menyelamatkan Yehuda dari tangan raja Sanherib, raja Asyur. Akan tetapi setelah Hizkia berhasil menegakkan kembali nama Tuhan di Yehuda mati, Raja Manasye dan anaknya raja Amon melakukan apa yang benar-benar jahat di Mata Tuhan. Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan, mezbah-mezbah baal, tiang-tiang berhala dan mempersembahkan korban kepada berhala. Rakyat Yehuda sendiri ikut ambil bagian dalam semua tindakan kejahatan rajanya. Hal ini terjadi sebelum reformasi besar yang dilakukan oleh Yosia raja Yehuda. Melihat keburukan spiritual sepeti ini Zefanya tampil menyerukan bahwa hari Tuhan akan datang dan menghukum mereka semua yang telah meninggalkan Tuhan. Mereka hidup asal-asalan, diumpamakan seperti orang-orang yang mengental seperti anggur di endapannya. Orang-orang Yehuda sama sekali tidak menyadari bahwa kehidupan mereka cemar. Sebelum menyeruhkan tentang hari Tuhan nabi Zefanya telah terlebih dahulu mengecam kehidupan spiritual mereka yang sangat buruk. Yang terjadi adalah melakukan ritual-ritual tanpa penghayatan iman yang mendalam kepada Tuhan.
Sebaliknya hal berbeda kita temui dalam jemaat Tesalonika. Mereka malah menunjukkan sikap hidup yang benar-benar berubah dari penyembah berhala (keadaan bangsa Yehuda zaman Zefanya) menuju pertobatan yang pada akhirnya menjadi kesaksian hidup bagi orang-orang di wilayah Makedonia dan Akhaya. Respon mereka terhadap pemberitaan Paulus menghasilkan 3 ciri utama pekerjaan iman yakni iman yang aktif terhadap Tuhan, usaha kasih, yakni sikap saling mengasihi di natara mereka yang sangat nyata dan ketekunan pengharapan dalam ketaatan untuk bertahan menantikan kedatangan Kristus kembali. Mereka mengembangka diri ke arah Kristus dan menghasilkan sebuah pencapaian yang besar ini. Apa yang mereka capai ternyata tidak hanya berdampak pada diri mereka saja melainkan ke seluruh Asia kecil. Pencapaian yang dihasilkan oleh jemaat Tesalonika ini tidak terlepas dari kerja keras Paulus dkk. Jemaat Tesalonika sendiri bercermin dari pengalaman hidup Paulus dkk. Bagaimana Paulus menempa diri dengan begitu rupa, menyelaraskan hidupnya dengan kristus sendiri. Hal ini jugalah yang dikerjakan oleh jemaat tesalonika selau penurut-penurut Allah. Kekayaan iman kasih dan pengharapan yang dimiliki jemaat Tesalonika menjadi hal terbesar yang patut disyukuri bagi Paulus dkk. Kehidupan spiritualitas seperti inilah yang diharapkan Yesus Kristus bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Pengembangan diri ke arah yang lebih baik.
          Apa yang dilakukan jemaat Tesalonika bersama Paulus dkk merupakan hal yang sama yang dilakukan oleh hamba 1&2 yang diberi tugas oleh tuannya untuk menjalankan talenta dalam Matius 25:14-30. Tuan tersebut adalah anak Manusia (Yesus) sementara para hambanya adalah umat manusia yang percaya padanya. Talenta sebetulnya adalah satuan berat tetapi talenta juga digunakan untuk menunjuk pada satuan uang (bdk. Mat 18:24). Nilainya berubah‑ubah tergantung tempat, waktu, dan logam yang dipakai (emas, perak, tembaga), tetapi banyak penafsir mengatakan bahwa 1 talenta bernilai 6000 dinar dan kalau upah seorang buruh adalah 1 dinar sehari (bdk. Mat 20:2), maka 1 talenta adalah upah seorang buruh dalam 16 tahun.
Dua hamba pertama mempergunakan kesempatan yang diberikan tuannya dengan sebaik mungkin. Menghasilkan laba sesuai dengan banyaknya talenta yang dipercayakan. Mereka berusaha dan bekerja keras menghasilkan sesuatu untuk diberikan kepada tuannya. Menjalankan dengan baik dan benar bagian yang dipercayakan kepadanya.
          Hamba ke-3 pun berusaha tetapi tidak menghasilkan apa-apa untuk diberikan kepada tuannya. Menggali lobang dan menyembunyikan telenta merupakan sebuah usaha juga tetapi bukan usaha yang dilakukan dalam rangka menghasilkan sesuatu bagi tuannya apalagi melihat kesempatan tersebut sebagai peluang untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan apa yang ada pada dirinya. Ia sama sekali tidak tertantang oleh kesempatan yang dimilikinya.
          Setelah rentang waktu yang diberikan sang tuan mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Kepada hamba 1&2 sang tuan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mari kita perhatikan bahwa bahwa yang dipuji sang tuan bukan hasil yang banyak melainkan sikap para hamba dalam bekerja. Ia tidak berkata ‘baik sekali perbuatanmu hai hambaku yang berhasil melainkan hambaku yang baik dan setia. Hal ini berarti sang tuan tidak mementingkan hasil melainkan proses, yakni apa yang dilakukan para hamba selama rentang waktu sang tuan meninggalkan mereka. Antara rentang waktu itulah yang tuan perhatikan. Bagaimana para hambanya memaknai rentang waktu tersebut.
          Tetapi hamba ke-3 yang tidak menghasilkan apa-apa malah memiliki pemahaman yang salah terhadap tuannya. Ia mengatakan bahwa tuannya adalah orang yang mengambil keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tuannya mengumpulkan ke dalam lumbungnya hasil pengirikan yang telah dilakukan orang lain. Kepadanya sang tuan berkata “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas”  Tuan tidak menyebutnya sebagai hamba yang gagal melainkan jahat dan malas. Mengarah pada sikap si hamba yang bersikap masa bodoh, tidak mempergunakan kesempatan yang ada padanya dengan sebaik mungkin, dan tidak berani menanggung resiko.
          Apa yang penting untuk kita pelajari dari sikap para hamba adalah bahwa kepada kita masing-masing Allah mengaruniakan peran-peran dalam dunia dan memberikan kita waktu yang cukup untuk berkarya. Dalam rentang waktu yang disediakan itulah yang harus kita gunakan sebaik mungkin sebab pengembangan talenta merupakan pengembangan kepribadian untuk menjadi lebih baik dan hal ini sama artinya dengan memproses diri dalam pertumbuhan spiritual. Mempergunakan waktu yang ada dengan bijak seperti yang telah diteladani oleh jemaat Tesalonika melalui kekayaan pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan. Masing-masing kita telah diperlengkapi dengan talenta oleh Allah. Dan Allah menuntut kehidupan spiritualitas dalam pengembangan talenta tersebut sambil menantikan kedatangan Anak-Nya kembali. Rentang waktu yang Allah sediakan tidaklah terlalu banyak. Kitab Mazmur memberi kesaksian pasa kita bahwa hidup kita singkat karena waktu kita tidak lama. Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
Allahlah yang mengatasi waktu sementara manusia lemah. Karena itulah Pemazmur memohonkan agar diberi kesadaran akan kesementaraannya supaya ia selalu memiliki hati yang berhikmat dan hidup yang bermakna.
Spiritualitas tidak berbicara mengenai menghasilkan jumlah yang banyak seperti laba 5 dan 2 talenta melainkan pada sikap hati dalam mengembangkan talenta sebab yang dilihat Allah bukanlah hasil melainkan proses : baik sekali perbuatanmu hai hambaku yang baik dan setia. Yang dinginkan dari kita sekalian adalah pengembangan diri dalam melakukan bagian yang dipercayakan pada kita. Kita hidup dalam masyarakat yang berusaha menemukan TUhan dalam karya nyata kita di masyarakat melalui pekerjaan dan profesi kita masing-masing. Karena itu sikap yang dituntut adalah kesetiaan, tanggung jawab, ketekunan, kesungguhan, kejujuran dan kerelaan berlelah dalam melakukan pekerjaan kita.  Menunjukkan spiritulitas di tempat kerja. Dengan melakukan hal-hal ini berarti kita telah memelihara relasi yang benar dengan Allah. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus. Tuhan tersenyum bukan ketika kita melaporkan hasil-hasil pekerjaan kita melainkan jauh sebelum itu, yakni ketika DIA melihat kita bekerja dan melayani dengan tekun dan setia.



Jumat, 04 November 2011

MENGHUBUNGKAN KEHIDUPAN KEAGAMAAN DAN PERILAKU ADIL


KEBAKTIAN UMUM
Mikha 3:5-12 Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Mat 23:1-12 

            “Aku senang! Akhirnya aku terpilih! Aku memperoleh kedudukan! Masyarakat mempercayaiku untuk mengemban tugas ini. Dengan jabatan ini aku dapat melakukan apa saja. Kesempatan ini tak boleh kusia-siakan. Aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk keluargaku. Apa pun caranya. Korupsi? Siapa takut?! Ntar ketahuan pun tinggal nyogok lagi”
            Di tempat yang lain, seorang nenek menangis : “Tuhan, hanya karena mencuri seekor ayam aku harus mendekam di balik jeruji besi ini. Aku sebenarnya terpaksa melakukan hal itu. Beras miskin yang seharusnya menjadi jatahku malah diambil oleh pejabat pemerintahan. Kalau tidak mencuri, aku makan apa? Sungguh tak adil Negara ini. Yang sudah kaya masih tega merampas hak orang miskin. Katanya Negara beragama, mana hasilnya? Aku sangat diperlakukan dengan tidak adil.”
            2 realitas di atas selalu kita jumpai dalam hidup bermasyarakat. Ada orang yang kaget dengan jabatan yang diembannya dan tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang diutus untuk melayani sesamanya manusia. Orang seperti ini akan berpikir bagaimana caranya menggunakan jabatan yang ada padanya sebagai kesempatan untuk memuaskan kepentingan pribadi. Masalah memberlakukan keadilan, nanti dulu. Sedangkan ada orang yang menyadari benar bahwa jabatan yang ada padanya adalah pemberian Tuhan dan karena itu harus dipergunakan secara bertanggung jawab. Berusaha menegakkan keadilan. Ya. Keadilan menjadi barang langkah di Negara kita. Kita miskin akan keadilan. Orang selalu mengambil apa yang bukan haknya.
            Negara kita kurang mengerti dengan benar makna keadilan. Terlalu banyak orang menyimpang dari keadilan yang sebenarnya. Keadilan hanya milik orang-orang berada. Ketidakadilan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Orang tidak lagi takut pada hukum yang berlaku. Korupsi salah satu contohnya. Hebatnya, Negara kita merupakan Negara terkorup no 1 seAsia Tenggara. Ketidakadilan merupakan teman baik bangsa Indonesia. Itulah potret Negara kita.
            Pola yang sama terjadi pada zaman nabi Mikha dimana ia mengecam sikap-sikap para pemimpin bangsa pada waktu itu. Ia memprotes ketidakadilan yang terjadi dalam bangsanya. Ketidakadilan akibat nubuat-nubuat nabi palsu. Mereka tidak bernubuat sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan melainkan bernubuat menyenangkan hati orang yang memberi mereka makan. Mereka berbuat baik, menyatakan kasih yang pura-pura terhadap orang kaya yang mampu memberi mereka makan sedangkan orang-orang miskin ditindas, diperlakukan dengan sangat tidak adil. Keadilan menjadi sesuatu yang relative dan subjektif sebab keadilan hanya milik orang-orang berada. Para nabi palsu menubuatkan sesuatu yang menyesatkan bagi para pemimpin bangsa sementara para pemimpin bangsa menyatakan keadilan berdasarkan UANG. Keputusan terhadap siapa yang benar dalam pengadilan diputuskan karena SUAP. Para imam memberikan pengajaran yang seharusnya sudah menjadi kewajibannya karena BAYARAN. Mereka semua memberlakukan ketidakadilan. Yang salah dibenarkan karena UANG sedangkan yang benar disalahkan karena tak memiliki UANG. Para pemimpin bangsa ini sebenarnya memperoleh 2 tugas sekaligus dari Allah: mengadili dan melayani. Dua-duanya diselewengkan. Mereka mengadili dan menyatakan keadilan hanya bagi orang berada serta hanya melayani kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang mampu mengenyangkan perut mereka (memberi mereka makan). Inilah potret para pemimpin di kerejaan Yehuda pada zaman nabi Mikha. Karena perilaku ketidakadilan ini, Allah menyatakan hukuman kepada mereka, mereka akan menyaksikan kehancuran Yerusalem.
            Rupanya sifat para pemimpin bangsa Yehuda pada zaman nabi Mikha menurun pada orang-orang yang memimpin bangsa Yehuda (Yahudi) di bidang keagamaan. Mereka yang memegang peranan dalam hal ini adalah ahli taurat dan orang farisi. 2 kelompok keagamaan ini dikecam oleh Tuhan Yesus karena sikap hidup mereka tidak mencerminkan apa yang mereka ajarkan. Mereka memang adalah orang-orang yang duduk di kursi Musa artinya mereka orang yang berwenang duduk di mimbar sinagoge untuk mengajarkan dan menjelaskan isi kitab-kitab Musa. Yesus sendiri mendorong murid-muridNya dan orang banyak yang sedang bersamaNya pada saat itu untuk menuruti dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli taurat dan orang Farisi. Tetapi jangan turuti apa yang mereka lakukan. Dalam ilmu psikologi, seseorang belajar lebih baik dan lebih cepat melalui apa yang dilihatnya dari pada apa yang didengar. Jika ditarik hubungannya dengan ilmu mengajar, hal ini berarti untuk sebuah pengajaran yang efektif dibutuhkan pengajaran melalui kata-kata teladan melalui perbuatan. 2 hal inilah, pengajaran dan teladan yang tidak sejalan dalam model pengajaran orang-orang farisi dan ahli taurat. Mereka sangat mengerti yang baik dan benar akan tetapi mereka mengabaikan prakteknya. Secara panjang lebar Yesus mengungkapkan ketidakselarasan teori dan praktek mereka.
1)             Mengikat beban berat pada bahu orang lain, sementara mereka sendiri angkat tangan. Beban itu adalah 613 Hukum Taurat (Halakah), yakni penjelasan lisan atau tertulis orang Yahudi khususnya tentang peraturan haram-halal, najis-tahir, persepuluhan dan barang kudus, puasa dan berdoa. Semua ini dibebankan kepada orang Yahudi sementara para ahli taurat dan orang farisi tidak mau bersama-sama masyarakat menanggung beban Halakah tersebut. Selaku tokoh agama mereka tidak mau berbuat sesuatu supaya ke-613 peraturan Halakah itu tidak terlalu memberatkan masyarakat. Hal ini berkaitan erat dengan ajakan Tuhan Yesus pada Mat 11:28 “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.
2)             Motivasi mereka adalah simpati dari manusia/orang banyak. Menggunakan atribut-atribut keagamaan agar mereka dilihat sebagai orang-orang yang saleh. Pertama, mereka suka memakai tali sembayang yang lebar. Tali sembayang ini (tephillim) adalah tali sembayang yang dibuat dari dari kulit hewan dan dipakai oleh orang Yahudi saleh diatas usia 13 tahun ketika berdoa. Di tali ini biasanya disimpan nas-nas Kitab Suci. Tali ini bisa dilebarkan, tetapi ia akan kehilangan makna, hanya akan menjadi alat pamer kesalehan. Dan Yesus mengecam sikap pamer kesalehan ini. Kedua, orang-orang farisi dan ahli taurat: gila hormat dan gila pengakuan. Selalu berada di tempat terdepan di masyarakat. Dalam rumah ibadat mereka suka duduk di bangku di atas panggung sementara para jemaat Tuhan duduk melantai. Mereka ingin dipanggil rabi tetapi tidak hidup menampakkan sikap hidup seorang rabi. Mereka tidak memiliki teladan agar dapat dicontoh murid-muridnya.
Sikap mereka sangat TIDAK ADIL! Bagaimana mungkin mereka memaksa orang untuk melakukan hal tersebut sementara mereka sendiri hanya mengerti teori dan tidak mampu melakukannya?
            Berbeda dengan Tuhan Yesus, Dialah yang Guru sejati. IA mampu menyelaraskan apa yang IA ajarkan dengan yang IA lakukan. Ia menyampaikan ajarannya dengan teladan. Dia Guru yang adil, menetapkan standar hidup keagamaan pada orang lain dan diriNya. Ia sendiri pun melakukan standar hidup itu. Ia merangkul murid-muridnya dan orang banyak untuk standar hidup keagamaan. Ia membuktikannya dengan menjadi teladan dalam hal melayani murid-muridNya. Yesus menegaskan bahwa keadilan berarti jika engkau menuntut orang lain melakukan sesuatu engkau pun harus menuntut dirimu sendiri melakukan hal tersebut. Keadilan berarti melakukan bagian yang dipercayakan kepadamu dengan sebaik mungkin. Karena itu, keadilan sebenarnya sangat sederhana : melakukan apa dikatakan. Namun disinilah seringkali kita terjebak. Kita tahu banyak tentang keadilan namun kita sulit menerapkannya. Paulus meneladankan perilaku adil bagi kita. Ia mengajar dan ia juga melakukan apa yang ia ajarkan. Contohnya, untuk biaya hidup sehari-hari Paulus tidak memberatkan jemaat yang ia layani. Ia bekerja untuk menafkahi hidupnya sendiri (II Tes 3:10). Ia melakukan kewajiban hidupnya dengan baik di hadapan Allah dan manusia, menampilkan hidup keagamaan yang benar. Ia tidak hanya menginformasikan panggilan jemaat tetapi ia mendasarkan hidupnya dengan panggilan itu, berusaha menghibur dan mendukung semangat jemaat ketika berada dalam kesulitan dan keputusasaan. Sikap hidup Paulus yang sangat bertolak belakang dengan sikap hidup para ahli taurat dan orang farisi. Hidup keagamaan tidak hanya berhenti pada mengerti dengan baik firman Allah tetapi menyangkut bagaimana melakukan firman Allah dalam hidup keseharian. Kita menerima jabatan sebagai para pemimpin, kita menerima jabatan sebagai pelayan Tuhan dalam gereja, kita menerima jabatan masing-masing dalam lingkungan pekerjaan kita. Kita hadir dengan masing-masing peran kita dalam masyarakat. Allah menuntut kita berperilaku adil. Adil dalam keputusan-keputusan kita bagi orang lain, adil terhadap tuntutan-tuntutan kita terhadap sesama, adil terhadap hak-hak orang sekeliling kita, membiarkan sesama kita memperoleh bagian yang memang menjadi haknya, sebab semua orang ingin agar diperlakukan sesuai dengan haknya. Tidak ada orang yang tidak ingin diperlakukan secara adil. Pemazmur mengungkapkan betapa ia tidak ingin menjadi korban ketidakadilan. Ia berseru kepada Tuhan mengenai penindasan, penipuan dan kecurangan yang dialaminya. Ini membuktikan bahwa betapa tidak enaknya diperlakukan dengan tidak adil. So, semua orang ingin diperlakukan dengan adil. Namun apakah semua orang mau berlaku adil? Ini permasalahan kita? Terlalu jauh kalau menuntut pemerintah kita berlaku adil, mengharapkan para koruptor bertobat dan berlaku adil terhadap uang-uang Negara. Sulit memulai dari mereka. Tapi kita bisa memulainya dari kita sendiri. Kalau semua orang di sekeliling saya dan bapak/ibu sdra/i semua berperilaku tidak adil, kurang mengerti bagaimana bertindak secara adil, kita dapat menunjukkannya kepada mereka. Bersikap adil terhadap persaingan-persaingan bisnis, bersikap adil terhadap karyawan-karyawan kita, bersikap adil dalam segala profesi dan bidang pekerjaan kita. Teladan kita mungkin akan menyentuh hati mereka. Kalau seseorang diperlakukan secara adil, ia akan terdorong untuk memperlakukan orang lain juga dengan adil. Kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Memastikan anak-anak kita, kita perlakukan secara adil maka mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang mampu memperlakukan orang lain secara adil juga. Menanamkan prinsip keadilan bukan keadilan yang subjektif melainkan keadilan yang objektif. Bukan atas dasar UANG & SUAP seperti pemimpin-pemimpin bangsa Yehuda dan pejabat-pejabat pemerintahan Negara kita. Bersikap adil : mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita sehingga tidak mengambil hak orang lain. Menyatakan benar jika benar dan salah jika salah.

“TIADA KEKUDUSAN DI HADAPAN ALLAH TANPA KASIH KEPADA SESAMA”



  Kebaktian Umum

Imamat 19:1-2, 15-1; Mazmur 1:1-6; 1 Tesalonika 2:1-8; Mat 22:34-46 



Ketika seorang pendeta selesai berkhotbah di kebaktian Minggu, anak laki-laki dari pendeta tersebut berlari-lari ke gereja sambil membawa bantal, tikar, makanan dan pakaian pendeta tersebut ke dalam gereja. Orang banyak heran dengan perbuatan sang anak. Dan salah seorang bapak bertanya kepadanya “nak, mengapa kamu membawa barang-barang ini ke gereja?” sang anak menjawab “ini buat bapak saya, kalau di gereja bapak saya menjadi bapak yang sangat baik, saya ingin bapak tinggal selamanya di gereja biar terus menjadi orang yang baik dan tidak sering memukuli saya.” Rupanya sang anak sering dipukuli ayahnya yang adalah seorang pendeta di gereja tersebut.
            Ternyata lingkungan Gereja mampu menyulap orang-orang untuk menjadi orang baik, saling mengasihi, saling tersenyum, bersalaman, bertegur sapa dan berbagai sikap positif lainnya. Sedangkan di luar lingkungan gereja orang dapat berubah karakter. Entah mana yang asli, kita menjadi bingung.
            Keluar dari lingkungan gereja, kembali ke kehidupan kita masing-masing, kembali ke realitas masyarakat kita, keluarga kita. Kehidupan dunia dan tuntutannya yang begitu berat, persaingan yang begitu ketat dan kita dipaksa untuk dapat survive/bertahan. Jika tidak bijak dan cerdik kita akan tertinggal jauh dalam kompetisi-kompetisi kehidupan. Permainan politik dimana-mana, segala sesuatu harus pakai uang. Tidak ada uang berarti siap-siap gagal. Ketidakadilan terjadi dimana-mana. Akhirnya kita dilatih menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, egois. Menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai. Di tengah realitas dunia yang seperti ini, mazmur 1 memberikan kepada kita sebuah tawaran untuk hidup sebagai orang benar. Tawaran ini adalah tawaran gaya hidup yang tidak mengikuti gaya hidup yang ditawarkan dunia. Gaya hidup yang mencintai taurat Tuhan dan merenungkannya siang malam, setiap saat. Buah dari gaya hidup yang demikian adalah senantiasa memberi kehidupan. Hidup sebagai orang benar berarti hidup yang memberi buah. Sedangkan hidup sebagai orang fasik tidak menghasilkan apa-apa/sia-sia.
            Orang benar adalah orang yang hidup menurut standar moral yang ditetapkan Allah. Standar moral yang ditetapkan oleh Allah adalah keharusan untuk hidup dalam kekudusan : “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus”. Perintah untuk hidup kudus ini disampaikan Allah kepada Musa agar disampaikan kepada bangsa Israel yang pada waktu itu sedang dalam perjalanan dari Mesir ke tanah perjanjian. Allah adalah kudus, karena itu manusia pun harus kudus supaya dapat bersekutu dengan Allah. Manusia kudus bukan pada dirinya sendiri melainkan karena telah dikuduskan oleh Allah sehingga perintah Allah untuk hidup dalam kekudusan merupakan sebuah tuntutan Allah agar kekudusan yang sudah Allah kerjakan dalam diri manusia terus dipelihara oleh manusia. Perintah Allah kepada bangsa Israel yang terkandung dalam Imamat 19 sebenarnya menggambarkan bahwa hidup dalam kekudusan tidak hanya berhenti pada kehidupan beribadah melainkan kekudusan hidup harus nyata dalam kehidupan setiap hari. Hidup kudus di hadapan Allah mengandung makna dan perintah untuk hidup baik dengan sesama manusia. hidup baik ini ditunjukkan dengan sikap hidup yang mengasihi sesama. Mengasihi bukan hanya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Tindakan-tindakan kasih ini diuraikan dengan jelas dalam imamat 19:15-18.
1.             Berlaku adil
            Menetapkan hanya satu standar keadilan. Pelaksanaan keadilan yang tidak memandang muka. Tidak peduli seseorang miskin atau kaya. Karena kita sama-sama manusia. sama-sama memiliki hak untuk diperlakukan dengan adil. Adil terhadap kebutuhan masing-masing anggota keluarga kita. Bersikap adil berarti tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
2.             Hendaklah mulut ini mengucapkan kata-kata yang manis di telinga. Kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama.
Mulut merupakan salah satu potensi terbesar yang dapat mengeratkan suatu relasi atau sebaliknya merenggangkan sebuah relasi yang baik. Relasi yang baik seringkali menjadi renggang karena fitnah. Fitnah hanya akan membuat kita kehilangan banyak tenaga, kehilangan banyak waktu berharga, kehilangan teman dan sahabat. Belum tentu apa yang kita katakan benar. Dari pada membuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat lebih baik mulut kita mengucapkan kata-kata yang manis di telinga sesama, maka dimanapun kita berada keberadaan kita akan menjadi berkat sebab kata-kata kita sebenarnya menggambarkan bagaimana kita yang sebenarnya.
3.             Menegur sesama dengan kasih
            Menegor berarti menyatakan atau menunjukkan kesalahannya. Melakukan hal ini dengan sungguh-sungguh bukan hanya menunjukkan ketiadaan rasa benci namun juga keinginan agar orang itu bertambah baik. Sebuah kata teguran yang tidak diungkapkan mungkin berarti dorongan bagi orang tersebut untuk terus berbuat dosa sehingga membuat diri sendiri berbuat dosa. Sebab seseorang mungkin saja tidak menyadari kalau ia bersalah sampai ada yang memberitahukan padanya bahwa ia bersalah. Orang yang bijak selalu menegur dan mengkritik dengan menyediakan solusi. Apabila sesuatu menganjal di hati kita, berbicaralah. Itu akan membuat hati kita aman. Sebab menahannya di hati kita akan membuat hidup kita tidak nyaman dan berbeban berat.
4.             Mengampuni sebagai bagian dari mengasihi sesama.
            Mengampuni berarti tidak menuntut balas dan tidak menaruh dendam melainkan mengasihi. Mengampuni berarti tidak merasa sakit lagi ketika mengingat peristiwa yang melukai kita. Seberapa dalam pun kita disakiti, dikhianati, dibenci, Allah menuntut kita untuk mengampuni. Pengampunan kita pada akhirnya menjadi bukti bahwa kita mengasihi mereka yang menyakiti kita. Kita tidak dapat mengasihi sekaligus membenci seseorang. Dengan mengampuni kita membuktikan bahwa kita memiliki jiwa yang besar untuk dapat mengasihi sesama.
            4 hal inilah yang menjadi tindakan-tindakan kasih pada sesama. Tindakan-tindakan kasih seperti ini jugalah yang ditekankan Tuhan Yesus ketika ia menjawab pertanyaan orang-orang Farisi mengenai hukum yang terutama. Kasih kepada Allah dan sesama menjadi hukum yang terutama bukan karena ditekankan pada perasaan kasihnya melainkan pada tindakan-tindakan kasih, artinya kita tidak dapat berkata mengasihi Allah kalau membenci sesama manusia. kasih kepada Allah tercermin dalam kasih kepada sesama. Dalam hal ini Paulus telah memberi kita teladan. Ia mengasihi sesamanya terutama sesama orang beriman. Untuk mereka yang ia kasihi khususnya orang-orang di Tesalonika ia membuktikan kasihnya pada mereka dengan memberi hidupnya bagi mereka: berkorban bagi mereka dan bagi semua jemaat-jemaat kristen yang telah ia dirikan. Ia rela dianiaya dan dihina demi pemberitaan injil yang ia lakukan agar semua orang ia kasihi juga dapat merasakan kasih Tuhan yang besar. Paulus melalui ssebuah jalan yang sulit dan terjal. Tetapi itulah pilihannya. Ia tahu bahwa kewajibannya adalah mengasihi mereka yang dipercayakan Allah padanya. Karena itulah untuk orang-orang terkasih ini Paulus rela berkorban, memberi dirinya bagi mereka.
            Dunia kita yang penuh dengan ketidakadilan ini menjadi salah satu alasan kesulitan dalam mengasihi sesama. Sesungguhnya mengasihi itu sakit. Keluar dari sendiri, keinginan diri, mendahulungan kepentingan orang yang kita kasihi. Bagaimana harus mengasihi jika keberadaan kita saja tidak diinginkan? Bagaimana harus mengasihi jika orang-orang memperlakukan kita dengan sangat tidak adil? Bagaimana harus mengasihi jika kitalah yang difitnah? Bagaimana harus mengasihi jika kitalah yang tidak diampuni? Bagaimana harus mengasihi jika pengorbanan kita tidak dihargai? Betapa sulitnya mengasihi sesama. Namun Allah menempatkan kita di tengah-tengah realitas dunia yang seperti ini. Tentu ada maksudnya. Justru dalam keadaan seperti inilah kasih kita diuji. Seberapa dalam kita mengasihi. Kalau Allah memanggil saya dan bapak/ibu saudara/I untuk hidup mengasihi sesama saya percaya tentu Allah juga memperlengkapi kita dengan apa yang perlu untuk melakukan kehendakNya. Allah akan mengaruniakan hati yang tahan menderita dan hati yang cepat mengampuni dan kasih yang besar untuk tetap terus mengasihi.
            Tiada kekudusan di hadapan Allah tanpa kasih kepada sesama. Allah menginginkan agar hidup yang saya dan bapak/ibu saudara/I jalani adalah hidup yang kudus. Kekudusan dibuktikan melalui kasih kepada sesama. Hidup kudus ini bukanlah pilihan melainkan kewajiban. Kita terpanggil ke dalam realitas kehidupan masyarakat yang memprihatinkan untuk melakukan sesuatu. Mengasihi. Kasih akan berdampak banyak hal. Kasih tidak pernah gagal. Kasih selalu mendatangkan kebaikan bagi orang yang menerimanya. Kasih tidak mengecewakan. Kasih selalu menerima apa adanya bukan apa adanya. Kasih selalu berkata : apa pun keadaanmu, aku tetap mengasihimu. Kita mengasihi bukan dengan prinsip ‘kasih karena’ atau ‘kasih supaya’ : selalu mengharapkan imbalan dan balas jasa dari kasih yang kita berikan. Melainkan mengasihi sesama menurut prinsip ‘kasih meskipun’ dan ‘kasih walaupun’…. Aku mengasihimu meskipun kamu menyakitiku, aku mengasihimu walaupun kau tidak tidak mengasihiku. Aku mengasihimu apa pun keadaanmu… karena tidak ada kekudusan di hadapan Allah tanpa kasih kepada sesama. Amin.