Kebaktian Umum
Zefanya 1:7, 12-18; Mazmur 90 :1-8 (9-11), 12; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 25:14-30
Spiritualitas selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bernuansa rohani. Bila seseorang aktif pelayanan dan rajin ke gereja, banyak orang yang akan berpendapat “orang tersebut kehidupan spiritulitasnya tinggi. Belum tentu! Kehidupan spiritual tidak hanya diukur oleh kegiatan-kegiatan gerejawi. Spiritualitas memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekedar rutinitas kerohanian. Formasi spiritualitas diawali dengan relasi yang benar dengan Allah. Relasi yang benar ini hanya dapat terjalin jika kita bertemu dengan Allah dalam jangka watu yang teratur dari hari ke hari.
Dunia kita adalah dunia yang penuh dengan kebisingan. Hampir-hampir tidak ada lagi waktu yang benar-benar tenang dan teduh. Dalam keadaan seperti ini banyak tindakan yang diambil demi mempertahankan relasi yang benar dengan Allah. Pertama, mencari Tuhan dalam keteduhan. Bertemu Tuhan dalam diam dan teduh. Susana seperti ini hanya dapat ditemui pada pagi hari ketika aktifitas belum dilakukan. Kedua, mengasingkan diri. Ada yang dalam jangka waktu pendek (retreat) dan waktu jangka panjang (bertapa, semedi, rumah pastori para biawaran/biarawati, kelompok persaudaraan Taize, dan komunitas-komunitas katholik lainnya yang mengutamakan hidup dalam diam, berbicara seperlunya dan terus menerus melakukan refleksi diri. Dalam pengasingan diri dari keramaian ini mereka berusaha mencari Tuhan. Ketiga, tetap berada dalam dunia pekerjaan dengan keyakinan bertemu dengan Tuhan lewat karya nyata dalam masyarakat. Bagian yang ketiga berarti menampakkan relasi yang benar dengan Tuhan melalui pekerjaan, yakni Spiritualitas di tempat kerja. Jadi jelas bahwa spiritualitas tidak hanya berbicara mengenai kuantitas kegiatan rohani tetapi pada usaha memelihara relasi yang benar dengan Allah melalui 3 usaha tadi, mencari Tuhan dalam keteduhan, mengasingkan diri dan Spiritualitas di tempat kerja.
Bangsa Yehuda di dalam Zefanya 1 menunjukkan kehidupan spiritual yang sangat merosot. Bangsa Israel sedang berada dalam kehidupan spiritual yang buruk akibat pemerintahan raja Manasye dan Amon dengan agama sinkritisme (percampuran penyembahan kepada Tuhan dan penyembahan berhala). Raja Hizkia, raja sebelum raja Manasye telah berhasil membawa kembali bangsa Israel dalam hubungan yang benar dengan Allah. Hal dibuktikan dengan cara Allah menyelamatkan Yehuda dari tangan raja Sanherib, raja Asyur. Akan tetapi setelah Hizkia berhasil menegakkan kembali nama Tuhan di Yehuda mati, Raja Manasye dan anaknya raja Amon melakukan apa yang benar-benar jahat di Mata Tuhan. Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan, mezbah-mezbah baal, tiang-tiang berhala dan mempersembahkan korban kepada berhala. Rakyat Yehuda sendiri ikut ambil bagian dalam semua tindakan kejahatan rajanya. Hal ini terjadi sebelum reformasi besar yang dilakukan oleh Yosia raja Yehuda. Melihat keburukan spiritual sepeti ini Zefanya tampil menyerukan bahwa hari Tuhan akan datang dan menghukum mereka semua yang telah meninggalkan Tuhan. Mereka hidup asal-asalan, diumpamakan seperti orang-orang yang mengental seperti anggur di endapannya. Orang-orang Yehuda sama sekali tidak menyadari bahwa kehidupan mereka cemar. Sebelum menyeruhkan tentang hari Tuhan nabi Zefanya telah terlebih dahulu mengecam kehidupan spiritual mereka yang sangat buruk. Yang terjadi adalah melakukan ritual-ritual tanpa penghayatan iman yang mendalam kepada Tuhan.
Sebaliknya hal berbeda kita temui dalam jemaat Tesalonika. Mereka malah menunjukkan sikap hidup yang benar-benar berubah dari penyembah berhala (keadaan bangsa Yehuda zaman Zefanya) menuju pertobatan yang pada akhirnya menjadi kesaksian hidup bagi orang-orang di wilayah Makedonia dan Akhaya. Respon mereka terhadap pemberitaan Paulus menghasilkan 3 ciri utama pekerjaan iman yakni iman yang aktif terhadap Tuhan, usaha kasih, yakni sikap saling mengasihi di natara mereka yang sangat nyata dan ketekunan pengharapan dalam ketaatan untuk bertahan menantikan kedatangan Kristus kembali. Mereka mengembangka diri ke arah Kristus dan menghasilkan sebuah pencapaian yang besar ini. Apa yang mereka capai ternyata tidak hanya berdampak pada diri mereka saja melainkan ke seluruh Asia kecil. Pencapaian yang dihasilkan oleh jemaat Tesalonika ini tidak terlepas dari kerja keras Paulus dkk. Jemaat Tesalonika sendiri bercermin dari pengalaman hidup Paulus dkk. Bagaimana Paulus menempa diri dengan begitu rupa, menyelaraskan hidupnya dengan kristus sendiri. Hal ini jugalah yang dikerjakan oleh jemaat tesalonika selau penurut-penurut Allah. Kekayaan iman kasih dan pengharapan yang dimiliki jemaat Tesalonika menjadi hal terbesar yang patut disyukuri bagi Paulus dkk. Kehidupan spiritualitas seperti inilah yang diharapkan Yesus Kristus bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Pengembangan diri ke arah yang lebih baik.
Apa yang dilakukan jemaat Tesalonika bersama Paulus dkk merupakan hal yang sama yang dilakukan oleh hamba 1&2 yang diberi tugas oleh tuannya untuk menjalankan talenta dalam Matius 25:14-30. Tuan tersebut adalah anak Manusia (Yesus) sementara para hambanya adalah umat manusia yang percaya padanya. Talenta sebetulnya adalah satuan berat tetapi talenta juga digunakan untuk menunjuk pada satuan uang (bdk. Mat 18:24). Nilainya berubah‑ubah tergantung tempat, waktu, dan logam yang dipakai (emas, perak, tembaga), tetapi banyak penafsir mengatakan bahwa 1 talenta bernilai 6000 dinar dan kalau upah seorang buruh adalah 1 dinar sehari (bdk. Mat 20:2), maka 1 talenta adalah upah seorang buruh dalam 16 tahun.
Dua hamba pertama mempergunakan kesempatan yang diberikan tuannya dengan sebaik mungkin. Menghasilkan laba sesuai dengan banyaknya talenta yang dipercayakan. Mereka berusaha dan bekerja keras menghasilkan sesuatu untuk diberikan kepada tuannya. Menjalankan dengan baik dan benar bagian yang dipercayakan kepadanya.
Hamba ke-3 pun berusaha tetapi tidak menghasilkan apa-apa untuk diberikan kepada tuannya. Menggali lobang dan menyembunyikan telenta merupakan sebuah usaha juga tetapi bukan usaha yang dilakukan dalam rangka menghasilkan sesuatu bagi tuannya apalagi melihat kesempatan tersebut sebagai peluang untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan apa yang ada pada dirinya. Ia sama sekali tidak tertantang oleh kesempatan yang dimilikinya.
Setelah rentang waktu yang diberikan sang tuan mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Kepada hamba 1&2 sang tuan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mari kita perhatikan bahwa bahwa yang dipuji sang tuan bukan hasil yang banyak melainkan sikap para hamba dalam bekerja. Ia tidak berkata ‘baik sekali perbuatanmu hai hambaku yang berhasil melainkan hambaku yang baik dan setia. Hal ini berarti sang tuan tidak mementingkan hasil melainkan proses, yakni apa yang dilakukan para hamba selama rentang waktu sang tuan meninggalkan mereka. Antara rentang waktu itulah yang tuan perhatikan. Bagaimana para hambanya memaknai rentang waktu tersebut.
Tetapi hamba ke-3 yang tidak menghasilkan apa-apa malah memiliki pemahaman yang salah terhadap tuannya. Ia mengatakan bahwa tuannya adalah orang yang mengambil keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tuannya mengumpulkan ke dalam lumbungnya hasil pengirikan yang telah dilakukan orang lain. Kepadanya sang tuan berkata “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas” Tuan tidak menyebutnya sebagai hamba yang gagal melainkan jahat dan malas. Mengarah pada sikap si hamba yang bersikap masa bodoh, tidak mempergunakan kesempatan yang ada padanya dengan sebaik mungkin, dan tidak berani menanggung resiko.
Apa yang penting untuk kita pelajari dari sikap para hamba adalah bahwa kepada kita masing-masing Allah mengaruniakan peran-peran dalam dunia dan memberikan kita waktu yang cukup untuk berkarya. Dalam rentang waktu yang disediakan itulah yang harus kita gunakan sebaik mungkin sebab pengembangan talenta merupakan pengembangan kepribadian untuk menjadi lebih baik dan hal ini sama artinya dengan memproses diri dalam pertumbuhan spiritual. Mempergunakan waktu yang ada dengan bijak seperti yang telah diteladani oleh jemaat Tesalonika melalui kekayaan pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan. Masing-masing kita telah diperlengkapi dengan talenta oleh Allah. Dan Allah menuntut kehidupan spiritualitas dalam pengembangan talenta tersebut sambil menantikan kedatangan Anak-Nya kembali. Rentang waktu yang Allah sediakan tidaklah terlalu banyak. Kitab Mazmur memberi kesaksian pasa kita bahwa hidup kita singkat karena waktu kita tidak lama. Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
Allahlah yang mengatasi waktu sementara manusia lemah. Karena itulah Pemazmur memohonkan agar diberi kesadaran akan kesementaraannya supaya ia selalu memiliki hati yang berhikmat dan hidup yang bermakna.
Spiritualitas tidak berbicara mengenai menghasilkan jumlah yang banyak seperti laba 5 dan 2 talenta melainkan pada sikap hati dalam mengembangkan talenta sebab yang dilihat Allah bukanlah hasil melainkan proses : baik sekali perbuatanmu hai hambaku yang baik dan setia. Yang dinginkan dari kita sekalian adalah pengembangan diri dalam melakukan bagian yang dipercayakan pada kita. Kita hidup dalam masyarakat yang berusaha menemukan TUhan dalam karya nyata kita di masyarakat melalui pekerjaan dan profesi kita masing-masing. Karena itu sikap yang dituntut adalah kesetiaan, tanggung jawab, ketekunan, kesungguhan, kejujuran dan kerelaan berlelah dalam melakukan pekerjaan kita. Menunjukkan spiritulitas di tempat kerja. Dengan melakukan hal-hal ini berarti kita telah memelihara relasi yang benar dengan Allah. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus. Tuhan tersenyum bukan ketika kita melaporkan hasil-hasil pekerjaan kita melainkan jauh sebelum itu, yakni ketika DIA melihat kita bekerja dan melayani dengan tekun dan setia.