IBADAH PERSEKUTUAN KELUARGA POS TANJUNG UBAN
RABU, 26 OKTOBER 2011
2 RAJA-RAJA 20:1-11
Mereka berdua berbeda dalam hal memaknai hidup. Bagaimana mereka menjalani hidup dan apa yang mereka lakukan sepanjang kehidupannya. Hal yang sama dengan Gus Dur, Raja Hizkia pun dalam masa pemerintahan kerajaan Yehuda memilih untuk membuat sisa hidupnya bermakna bagi banyak orang.
Raja Hizkia juga merupakan pemimpin bangsa Yehuda yang pada saat kisah ini berusia 39 tahun. Ia sedang menuju masa-masa kejayaannya. Ia baru saja melewati sebuah pertarungan iman yang kuat bersama raja Asyur, Raja Sanherib. Ia memilih untuk tetap berserah pada Tuhan sementara ia tahu dengan pasti bahwa kekuatan Asyur pada waktu itu tidak terkalahkan (2 Raj 18:13-37). Raja Hizkia pada waktu itu sedang berada pada puncak kejayaan ketika ia jatuh sakit (bisul) dan nabi Yesaya memvonisnya akan segera mati sebab ia tidak akan sembuh lagi. Ia berusia ± 39 tahun. Hal ini berarti raja Hizkia baru berkarya setengah perjalanan. Ia baru saja menghancurkan bukit-bukit pengorbanan berhala, tugu-tugu dan tiang-tiang berhala, ia memberontak terhadap Asyur dan mengalahkan tentara Filistin. Ia dikategorikan sebagai raja yang baik dan benar. Di dalam kedua kitab Raja-raja, setiap raja dinilai berdasarkan kesetiaannya kepada Tuhan dan keberhasilan bangsa adalah akibat dari kesetiaan tersebut. Sebaliknya, penyembahan berhala dan ketidaktaatan mengakibatkan bencana. Berdasarkan penilaian tersebut raja-raja kerajaan utara semuanya gagal, sedangkan raja Yehuda ada yang gagal, ada pula yang tidak. Salah satu yang berhasil adalah raja Hizkia. Ia tidak jatuh dalam penyembahan berhala bangsa-bangsa asing sehingga ia dikategorikan sebagai raja yang benar. Tentu ia masih memiliki banyak mimpi yang harus dikejarnya. Itulah sebabnya ketika kabar kematiannya diberitakan ia menjadi langsung melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Ia meminta Tuhan mengingat kebaikan dan kesetiaannya di hadapan Tuhan dengan berharap dengan sikap hidupnya yang benar selama ini Tuhan mau mendengarkan doanya. Setelah berdoa barulah ia menangis karena sedih.
Tuhan mendengar doa Hizkia sehingga Yesaya diminta untuk kembali pada Hizkia untuk memberitahukan Firman Allah. Hizkia disembuhkan Tuhan dan Tuhan mengaruniakan padanya 15 tahun umur lagi. Raja Hizkia tidak langsung percaya bahwa Tuhan akan mneyembuhkannya sehingga ia meminta tanda kepada Tuhan. Ia meminta agar bayangan pada penunjuk jam matahari buatan Raja Ahas mundur 10 garis (menjalani ulang garis-garis yang telah dilewatinya tadi) dan bayang-bayang itupun mundur 10 garis. Lalu, nabi Yesaya menggunakan buah ara untuk menyembuhkan bisul Hizkia dengan cara menempelkan ara tersebut di bisul Hizkia. Dan ia menjadi sembuh.
Kesempatan hidup 15 tahun yang Tuhan karuniakan dilihat Hizkia sebagai sebuah anugerah besar sehingga ia memilih untuk melakukan apa yang baik selama sisa hidup 15 tahun tersebut. Salah satu pekerjaan besar Hizkia adalah membendung aliran Gihon di sebelah hulu dan mengalirkannya ke hili dan masuk ke dalam kota, Yerusalem sehingga terdapat aliran air untuk persediaan masyarakat. Air ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah. Terowongan ini dikenal dengan nama terowongan Siloam, dengan panjang lebih dari 553 m dan kedalaman 2,5 meter. Hal ini sangat berguna ketika ada musuh menyerang. Masyarakat tidak perlu lagi keluar dari kota untuk mengambil minum sebab mereka telah memiliki persediaan air dalam kota. Ini menolong mereka untuk tidak mati kehausan.
Apa yang dilakukan Hizkia selama sisa hidup yang Tuhan karuniakan benar-benar sangat bermanfaat bagi banyak orang. 15 tahun usia yang diperpanjang tidak disia-siakannya. Ia membuat sesuatu yang berguna turun temurun hingga saat ini. Ia bisa memilih untuk menyia-nyiakan sisah hidup selama 15 tahun, meninggalkan Tuhan dan melakukan banyak hal yang menyukakan hatinya tetapi ia memilih untuk memaknainya dengan hal yang positif, tetap setia pada Tuhan sehingga gelar sebagai raja yang benar diperolehnya. Bagaimana ia sangat mempesona Allah (2 Raj 18:5).
Hidup yang kita jalani sekarang adalah anugerah terbesar dari Allah. Kita tidak tahu kapan akan kita akan dipanggil karena tugas kita telah selesai. Siapkah kita jika saat itu tiba? Mari melihat kembali kehidupan kita, apa yang telah kita lakukan selama hidup ini? Mari kita membayangkan, jika seorang malaikat Allah datang dan berkata kepada kita “Hey, waktumu selesai, ayo pulang” bagaimana respon kita? Mungkin kita akan tawar menawar juga dengan Tuhan. Tetapi Hizkia melakukan penawaran karena ia punya modal. Ia setia dan hidup benar. Walaupun pada akhirnya Allah menambah umurnya mungkin bukan karena pertimbangan tersebut. Atau malaikat itu berkata: waktumu tinggal 2 tahun. Apa yang akan kita lakukan dengan sisa hidup itu? Kita memiliki banyak sekali waktu karena kita tidak tahu kapan waktu kita dan kita memiliki banyak sekali pilihan dalam hidup ini. bagaimana kita harus menjalani hidup kita. Gus Dur dan Qhadafi merupakan 2 sosok orang yang dari cara hidup mereka kita dapat belajar banyak hal, bagaimana memaknai hidup yang Tuhan percayakan. Sebab yang penting bukan seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa bermaknanya hidup yang kita jalani. Kesempatan demi kesempatan datang, tergantung kita bagaimana menyikapinya. Saya menutup renungan ini dengan sebuah pertanyaan refleksi: dengan apakah saya maknai sisa hidup yang masih Tuhan percayakan pada saya ini? Tuhan memberkati. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar