IBADAH PERSEKUTUAN WANITA
SABTU, 22 OKTOBER 2011
1 RAJA-RAJA 17:7-16
Mother Teresa pernah berkunjung ke sebuah perumahan kumuh dengan membawa sekantung kecil beras untuk sebuah keluarga. Setelah menerimanya kantung berisi beras tersebut, sang ibu miskin mulai membagi 2 beras tersebut dan berlari ke arah belakang rumahnya. Mother Teresa mengikutinya karena ingin tahu apa yang akan dilakukan ibu miskin tadi. Ternyata ia membawa setengah dari beras yang ia dapat dari mother Teresa untuk sebuah keluarga lain yang lebih miskin dari dirinya. Sungguh merupakan sebuah peristiwa yang mengharukan. Si ibu ini adalah orang miskin dan apa yang ia terima tidaklah banyak akan tetapi dalam kekurangannya itu ia masih mampu berbagi dengan orang lain. Dalam kesusahannya ia masih ingat akan sesamanya yang lebih susah dari dirinya.
Raja Ahab menggantikan ayahnya menjadi raja atas Israel. Ia memperisteri Izebel (seorang perempuan yang terkenal sangat jahat di dalam Alkitab). Izebel adalah penyembah berhala Baal. Ahab mengikuti isterinya melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dengan menyembah para Baal bahkan ia mendirikan kuil Baal di Samaria, membuat patung Asyera è Dewi penduduk asli tanah Kanaan yang menjamin kesuburan. Dipuja sebagai isteri Baal. Lambangnya ialah pohon yang rimbun atau suatu " tiang berhala" yang oleh para nabi Tuhan ditentang keras (Ul. 16:21; 2Raj. 23:4, 6). Melihat kenyataan ini hati Elia sangat susah dan ia mengclaim kuasa Tuhan sehingga selama 3 tahun 6 bulan tidak turun hujan.
Keadaan menjadi sangat berat, sebab semua jadi kering kerontang. Tetapi Allah memelihara Elia dengan mengirimkan burung gagak 2x sehari untuk membawa daging dan roti kepada Elia untuk makanannya sedangkan untuk minumannya Elia dapat minum dari air sungai Kerit. Setelah beberapa lama sungai itupun kering juga sehingga Elia harus berpindah tempat agar tetap hidup. Tuhan memerinrahkan Elia pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon dimana Allah telah menyediakan seorang janda untuk memberi makan kepadanya. Sarfat adalah suatu tempat yang panas dan kering di daerah Phoenicia. Dan sudah kurang lebih 2 tahun hujan tidak turun ke daerah tersebut. Imam Baal dikawasan itu sudah di minta untuk menenangkan kemurkaan dewa kota, agar hujan dapat mengembalikan kehidupan di bumi, beberapa upacara ritual sudah diadakan, tetapi dewa kota itu yaitu dewa “Phoenicia’’ seolah-olah masih tetap menahan turunnya hujan. Hasil-hasil bumi berkurang, persediaan bahan makanan menipis. Bahkan seorang janda merasakan hal yang sama. Tepung dan minyaknya hanya sisah untuk sekali masak lagi dan setelah itu menunggu saatnya mati karena kelaparan.
Ke dalam keadaan daerah seperti inilah Elia diutus Allah. Dan kepada janda miskin inilah Allah mempercayakan hidup Elia. Janda yang persediaan bahan makanannya hampir habis. Dan Elia yang juga kehabisan minuman dan makanan. Dibelakang: sungat Kerit yang sudah kering & di depan: seorang janda miskin yang sudah hampir mati kehabisan persediaan bahan makanan. Elia meminta sang janda untuk memberikannya air minum dan roti. Janda jujur bahwa ia tak punya roti, yang ada hanya sedikit roti dan sedikit minyak dan hanya cukup untuk si janda dan anaknya, tidak cukup untuk bertiga. Akan tetapi tanggapan Elia setelah itu terdengar sangat egois dan seolah-olah mementingkan diri sendiri: “buatlah dahulu untukku” tetapi dilanjutkan dengan menjamin janda tersebut dengan janji Ilahi. Janda ini melakukan semua yang diperintahkan oleh nabi Elia. Mungkin karena percaya akan jaminan janji Elia atau karena hal lain tetapi apapun alasannya janda ini telah bertindak melampaui apa yang sebenarnya dapat ia lakukan. Ia melayani Elia justru dalam kekurangan yang sedang ia alami dengan memberikan satu-satunya yang ia miliki. Tindakannya ini akan sangat berakibat fatal apabila ternyata Elia membohonginya dengan jaminan janji tadi: ia akan mempercepat kematiannya dan kematian anaknya. Namun yang menarik justru saat ia memberi dari kekurangannya, memberi dengan total dan melampaui apa yang sebenarnya dapat ia berikan, kebaikannya menjadi sangat berarti. Kebaikan justru akan lebih terasa artinya jika diberikan dalam sebuah kekurangan.
Janji Tuhan dipenuhi. Minyak dan tepung janda ini tidak pernah habis. Janji Tuhan benar dan digenapi. Dengan memberi pada orang lain hidupnya sendiri malah ditopang Allah. Ia memberi, namun tetap berkecukupan. Inilah rahasia besar memberi : apa yang kita berikan sebenarnya tidak benar-benar pergi dari diri kita karena ada yang menggantikan apa yang kita berikan. Tangan kita jika memberi selalu dengan sikap terbuka itu berarti ketika kita memberi Allah menggantikan apa yang kita berikan bagi orang lain.
Janda ini berperan besar bagi kelangsungan hidup nabi Elia. Kita masing-masing hadir dengan peran yang Allah tempatkan dalam pribadi kita masing-masing. Dalam peran-peran itu Allah mengharapkan agar kita berbagi dengan sesama. Kekurangan dan keterbatasan yang ada pada kita justru dapat menjadi kekuatan kita untuk dapat bermanfaat lebih bagi banyak orang. Kebaikan akan sangat terasa nilainya justru ketika diberikan pada saat si pemberi sendiri mengalami kekurangan. Kebaikan tidak hanya dirasakan oleh orang yang menerimanya, yang memberi pun merasakan dampak dari pemberian itu.
Hari ini kita diajak oleh Firman Tuhan untuk dapat berbagi dengan sesama kita. Memulai dengan apa yang ada pada kita. Sebagai seorang ibu tentu masing-masing kita memiliki pergumulan untuk berbagi dengan sesama yang dalam pandangan kita pantas dan berhak memperoleh bantuan dari kita. Mari berbagi dengan mereka. Karena dengan memberi sebenarnya kita tahu bahwa kita tidak berkekurangan. Dengan memberi justru membuat kita semakin diperkaya. Membuka tangan untuk memberi berarti bersedia menerima berkat dari Tuhan.
Pertanyaan diskusi :
- Apakah yang akan kita lakukan jika kitalah yang berada di posisi janda di Sarfat?
- Tindakan apa yang akan kita lakukan?
- Tindakan praktis apa yang akan kita lakukan sebagai respon kita terhadap Firman Tuhan hari ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar