Jumat, 04 November 2011

MENGHUBUNGKAN KEHIDUPAN KEAGAMAAN DAN PERILAKU ADIL


KEBAKTIAN UMUM
Mikha 3:5-12 Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Mat 23:1-12 

            “Aku senang! Akhirnya aku terpilih! Aku memperoleh kedudukan! Masyarakat mempercayaiku untuk mengemban tugas ini. Dengan jabatan ini aku dapat melakukan apa saja. Kesempatan ini tak boleh kusia-siakan. Aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk keluargaku. Apa pun caranya. Korupsi? Siapa takut?! Ntar ketahuan pun tinggal nyogok lagi”
            Di tempat yang lain, seorang nenek menangis : “Tuhan, hanya karena mencuri seekor ayam aku harus mendekam di balik jeruji besi ini. Aku sebenarnya terpaksa melakukan hal itu. Beras miskin yang seharusnya menjadi jatahku malah diambil oleh pejabat pemerintahan. Kalau tidak mencuri, aku makan apa? Sungguh tak adil Negara ini. Yang sudah kaya masih tega merampas hak orang miskin. Katanya Negara beragama, mana hasilnya? Aku sangat diperlakukan dengan tidak adil.”
            2 realitas di atas selalu kita jumpai dalam hidup bermasyarakat. Ada orang yang kaget dengan jabatan yang diembannya dan tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang diutus untuk melayani sesamanya manusia. Orang seperti ini akan berpikir bagaimana caranya menggunakan jabatan yang ada padanya sebagai kesempatan untuk memuaskan kepentingan pribadi. Masalah memberlakukan keadilan, nanti dulu. Sedangkan ada orang yang menyadari benar bahwa jabatan yang ada padanya adalah pemberian Tuhan dan karena itu harus dipergunakan secara bertanggung jawab. Berusaha menegakkan keadilan. Ya. Keadilan menjadi barang langkah di Negara kita. Kita miskin akan keadilan. Orang selalu mengambil apa yang bukan haknya.
            Negara kita kurang mengerti dengan benar makna keadilan. Terlalu banyak orang menyimpang dari keadilan yang sebenarnya. Keadilan hanya milik orang-orang berada. Ketidakadilan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Orang tidak lagi takut pada hukum yang berlaku. Korupsi salah satu contohnya. Hebatnya, Negara kita merupakan Negara terkorup no 1 seAsia Tenggara. Ketidakadilan merupakan teman baik bangsa Indonesia. Itulah potret Negara kita.
            Pola yang sama terjadi pada zaman nabi Mikha dimana ia mengecam sikap-sikap para pemimpin bangsa pada waktu itu. Ia memprotes ketidakadilan yang terjadi dalam bangsanya. Ketidakadilan akibat nubuat-nubuat nabi palsu. Mereka tidak bernubuat sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan melainkan bernubuat menyenangkan hati orang yang memberi mereka makan. Mereka berbuat baik, menyatakan kasih yang pura-pura terhadap orang kaya yang mampu memberi mereka makan sedangkan orang-orang miskin ditindas, diperlakukan dengan sangat tidak adil. Keadilan menjadi sesuatu yang relative dan subjektif sebab keadilan hanya milik orang-orang berada. Para nabi palsu menubuatkan sesuatu yang menyesatkan bagi para pemimpin bangsa sementara para pemimpin bangsa menyatakan keadilan berdasarkan UANG. Keputusan terhadap siapa yang benar dalam pengadilan diputuskan karena SUAP. Para imam memberikan pengajaran yang seharusnya sudah menjadi kewajibannya karena BAYARAN. Mereka semua memberlakukan ketidakadilan. Yang salah dibenarkan karena UANG sedangkan yang benar disalahkan karena tak memiliki UANG. Para pemimpin bangsa ini sebenarnya memperoleh 2 tugas sekaligus dari Allah: mengadili dan melayani. Dua-duanya diselewengkan. Mereka mengadili dan menyatakan keadilan hanya bagi orang berada serta hanya melayani kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang mampu mengenyangkan perut mereka (memberi mereka makan). Inilah potret para pemimpin di kerejaan Yehuda pada zaman nabi Mikha. Karena perilaku ketidakadilan ini, Allah menyatakan hukuman kepada mereka, mereka akan menyaksikan kehancuran Yerusalem.
            Rupanya sifat para pemimpin bangsa Yehuda pada zaman nabi Mikha menurun pada orang-orang yang memimpin bangsa Yehuda (Yahudi) di bidang keagamaan. Mereka yang memegang peranan dalam hal ini adalah ahli taurat dan orang farisi. 2 kelompok keagamaan ini dikecam oleh Tuhan Yesus karena sikap hidup mereka tidak mencerminkan apa yang mereka ajarkan. Mereka memang adalah orang-orang yang duduk di kursi Musa artinya mereka orang yang berwenang duduk di mimbar sinagoge untuk mengajarkan dan menjelaskan isi kitab-kitab Musa. Yesus sendiri mendorong murid-muridNya dan orang banyak yang sedang bersamaNya pada saat itu untuk menuruti dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli taurat dan orang Farisi. Tetapi jangan turuti apa yang mereka lakukan. Dalam ilmu psikologi, seseorang belajar lebih baik dan lebih cepat melalui apa yang dilihatnya dari pada apa yang didengar. Jika ditarik hubungannya dengan ilmu mengajar, hal ini berarti untuk sebuah pengajaran yang efektif dibutuhkan pengajaran melalui kata-kata teladan melalui perbuatan. 2 hal inilah, pengajaran dan teladan yang tidak sejalan dalam model pengajaran orang-orang farisi dan ahli taurat. Mereka sangat mengerti yang baik dan benar akan tetapi mereka mengabaikan prakteknya. Secara panjang lebar Yesus mengungkapkan ketidakselarasan teori dan praktek mereka.
1)             Mengikat beban berat pada bahu orang lain, sementara mereka sendiri angkat tangan. Beban itu adalah 613 Hukum Taurat (Halakah), yakni penjelasan lisan atau tertulis orang Yahudi khususnya tentang peraturan haram-halal, najis-tahir, persepuluhan dan barang kudus, puasa dan berdoa. Semua ini dibebankan kepada orang Yahudi sementara para ahli taurat dan orang farisi tidak mau bersama-sama masyarakat menanggung beban Halakah tersebut. Selaku tokoh agama mereka tidak mau berbuat sesuatu supaya ke-613 peraturan Halakah itu tidak terlalu memberatkan masyarakat. Hal ini berkaitan erat dengan ajakan Tuhan Yesus pada Mat 11:28 “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.
2)             Motivasi mereka adalah simpati dari manusia/orang banyak. Menggunakan atribut-atribut keagamaan agar mereka dilihat sebagai orang-orang yang saleh. Pertama, mereka suka memakai tali sembayang yang lebar. Tali sembayang ini (tephillim) adalah tali sembayang yang dibuat dari dari kulit hewan dan dipakai oleh orang Yahudi saleh diatas usia 13 tahun ketika berdoa. Di tali ini biasanya disimpan nas-nas Kitab Suci. Tali ini bisa dilebarkan, tetapi ia akan kehilangan makna, hanya akan menjadi alat pamer kesalehan. Dan Yesus mengecam sikap pamer kesalehan ini. Kedua, orang-orang farisi dan ahli taurat: gila hormat dan gila pengakuan. Selalu berada di tempat terdepan di masyarakat. Dalam rumah ibadat mereka suka duduk di bangku di atas panggung sementara para jemaat Tuhan duduk melantai. Mereka ingin dipanggil rabi tetapi tidak hidup menampakkan sikap hidup seorang rabi. Mereka tidak memiliki teladan agar dapat dicontoh murid-muridnya.
Sikap mereka sangat TIDAK ADIL! Bagaimana mungkin mereka memaksa orang untuk melakukan hal tersebut sementara mereka sendiri hanya mengerti teori dan tidak mampu melakukannya?
            Berbeda dengan Tuhan Yesus, Dialah yang Guru sejati. IA mampu menyelaraskan apa yang IA ajarkan dengan yang IA lakukan. Ia menyampaikan ajarannya dengan teladan. Dia Guru yang adil, menetapkan standar hidup keagamaan pada orang lain dan diriNya. Ia sendiri pun melakukan standar hidup itu. Ia merangkul murid-muridnya dan orang banyak untuk standar hidup keagamaan. Ia membuktikannya dengan menjadi teladan dalam hal melayani murid-muridNya. Yesus menegaskan bahwa keadilan berarti jika engkau menuntut orang lain melakukan sesuatu engkau pun harus menuntut dirimu sendiri melakukan hal tersebut. Keadilan berarti melakukan bagian yang dipercayakan kepadamu dengan sebaik mungkin. Karena itu, keadilan sebenarnya sangat sederhana : melakukan apa dikatakan. Namun disinilah seringkali kita terjebak. Kita tahu banyak tentang keadilan namun kita sulit menerapkannya. Paulus meneladankan perilaku adil bagi kita. Ia mengajar dan ia juga melakukan apa yang ia ajarkan. Contohnya, untuk biaya hidup sehari-hari Paulus tidak memberatkan jemaat yang ia layani. Ia bekerja untuk menafkahi hidupnya sendiri (II Tes 3:10). Ia melakukan kewajiban hidupnya dengan baik di hadapan Allah dan manusia, menampilkan hidup keagamaan yang benar. Ia tidak hanya menginformasikan panggilan jemaat tetapi ia mendasarkan hidupnya dengan panggilan itu, berusaha menghibur dan mendukung semangat jemaat ketika berada dalam kesulitan dan keputusasaan. Sikap hidup Paulus yang sangat bertolak belakang dengan sikap hidup para ahli taurat dan orang farisi. Hidup keagamaan tidak hanya berhenti pada mengerti dengan baik firman Allah tetapi menyangkut bagaimana melakukan firman Allah dalam hidup keseharian. Kita menerima jabatan sebagai para pemimpin, kita menerima jabatan sebagai pelayan Tuhan dalam gereja, kita menerima jabatan masing-masing dalam lingkungan pekerjaan kita. Kita hadir dengan masing-masing peran kita dalam masyarakat. Allah menuntut kita berperilaku adil. Adil dalam keputusan-keputusan kita bagi orang lain, adil terhadap tuntutan-tuntutan kita terhadap sesama, adil terhadap hak-hak orang sekeliling kita, membiarkan sesama kita memperoleh bagian yang memang menjadi haknya, sebab semua orang ingin agar diperlakukan sesuai dengan haknya. Tidak ada orang yang tidak ingin diperlakukan secara adil. Pemazmur mengungkapkan betapa ia tidak ingin menjadi korban ketidakadilan. Ia berseru kepada Tuhan mengenai penindasan, penipuan dan kecurangan yang dialaminya. Ini membuktikan bahwa betapa tidak enaknya diperlakukan dengan tidak adil. So, semua orang ingin diperlakukan dengan adil. Namun apakah semua orang mau berlaku adil? Ini permasalahan kita? Terlalu jauh kalau menuntut pemerintah kita berlaku adil, mengharapkan para koruptor bertobat dan berlaku adil terhadap uang-uang Negara. Sulit memulai dari mereka. Tapi kita bisa memulainya dari kita sendiri. Kalau semua orang di sekeliling saya dan bapak/ibu sdra/i semua berperilaku tidak adil, kurang mengerti bagaimana bertindak secara adil, kita dapat menunjukkannya kepada mereka. Bersikap adil terhadap persaingan-persaingan bisnis, bersikap adil terhadap karyawan-karyawan kita, bersikap adil dalam segala profesi dan bidang pekerjaan kita. Teladan kita mungkin akan menyentuh hati mereka. Kalau seseorang diperlakukan secara adil, ia akan terdorong untuk memperlakukan orang lain juga dengan adil. Kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Memastikan anak-anak kita, kita perlakukan secara adil maka mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang mampu memperlakukan orang lain secara adil juga. Menanamkan prinsip keadilan bukan keadilan yang subjektif melainkan keadilan yang objektif. Bukan atas dasar UANG & SUAP seperti pemimpin-pemimpin bangsa Yehuda dan pejabat-pejabat pemerintahan Negara kita. Bersikap adil : mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita sehingga tidak mengambil hak orang lain. Menyatakan benar jika benar dan salah jika salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar