Imamat 19:1-2, 15-1; Mazmur 1:1-6; 1 Tesalonika 2:1-8 ; Mat 22:34-46
Ketika seorang pendeta selesai berkhotbah di kebaktian Minggu, anak laki-laki dari pendeta tersebut berlari-lari ke gereja sambil membawa bantal, tikar, makanan dan pakaian pendeta tersebut ke dalam gereja. Orang banyak heran dengan perbuatan sang anak. Dan salah seorang bapak bertanya kepadanya “nak, mengapa kamu membawa barang-barang ini ke gereja?” sang anak menjawab “ini buat bapak saya, kalau di gereja bapak saya menjadi bapak yang sangat baik, saya ingin bapak tinggal selamanya di gereja biar terus menjadi orang yang baik dan tidak sering memukuli saya.” Rupanya sang anak sering dipukuli ayahnya yang adalah seorang pendeta di gereja tersebut.
Ternyata lingkungan Gereja mampu menyulap orang-orang untuk menjadi orang baik, saling mengasihi, saling tersenyum, bersalaman, bertegur sapa dan berbagai sikap positif lainnya. Sedangkan di luar lingkungan gereja orang dapat berubah karakter. Entah mana yang asli, kita menjadi bingung.
Keluar dari lingkungan gereja, kembali ke kehidupan kita masing-masing, kembali ke realitas masyarakat kita, keluarga kita. Kehidupan dunia dan tuntutannya yang begitu berat, persaingan yang begitu ketat dan kita dipaksa untuk dapat survive/bertahan. Jika tidak bijak dan cerdik kita akan tertinggal jauh dalam kompetisi-kompetisi kehidupan. Permainan politik dimana-mana, segala sesuatu harus pakai uang. Tidak ada uang berarti siap-siap gagal. Ketidakadilan terjadi dimana-mana. Akhirnya kita dilatih menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, egois. Menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai. Di tengah realitas dunia yang seperti ini, mazmur 1 memberikan kepada kita sebuah tawaran untuk hidup sebagai orang benar. Tawaran ini adalah tawaran gaya hidup yang tidak mengikuti gaya hidup yang ditawarkan dunia. Gaya hidup yang mencintai taurat Tuhan dan merenungkannya siang malam, setiap saat. Buah dari gaya hidup yang demikian adalah senantiasa memberi kehidupan. Hidup sebagai orang benar berarti hidup yang memberi buah. Sedangkan hidup sebagai orang fasik tidak menghasilkan apa-apa/sia-sia.
Orang benar adalah orang yang hidup menurut standar moral yang ditetapkan Allah. Standar moral yang ditetapkan oleh Allah adalah keharusan untuk hidup dalam kekudusan : “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus”. Perintah untuk hidup kudus ini disampaikan Allah kepada Musa agar disampaikan kepada bangsa Israel yang pada waktu itu sedang dalam perjalanan dari Mesir ke tanah perjanjian. Allah adalah kudus, karena itu manusia pun harus kudus supaya dapat bersekutu dengan Allah. Manusia kudus bukan pada dirinya sendiri melainkan karena telah dikuduskan oleh Allah sehingga perintah Allah untuk hidup dalam kekudusan merupakan sebuah tuntutan Allah agar kekudusan yang sudah Allah kerjakan dalam diri manusia terus dipelihara oleh manusia. Perintah Allah kepada bangsa Israel yang terkandung dalam Imamat 19 sebenarnya menggambarkan bahwa hidup dalam kekudusan tidak hanya berhenti pada kehidupan beribadah melainkan kekudusan hidup harus nyata dalam kehidupan setiap hari. Hidup kudus di hadapan Allah mengandung makna dan perintah untuk hidup baik dengan sesama manusia. hidup baik ini ditunjukkan dengan sikap hidup yang mengasihi sesama. Mengasihi bukan hanya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Tindakan-tindakan kasih ini diuraikan dengan jelas dalam imamat 19:15-18.
1. Berlaku adil
Menetapkan hanya satu standar keadilan. Pelaksanaan keadilan yang tidak memandang muka. Tidak peduli seseorang miskin atau kaya. Karena kita sama-sama manusia. sama-sama memiliki hak untuk diperlakukan dengan adil. Adil terhadap kebutuhan masing-masing anggota keluarga kita. Bersikap adil berarti tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
2. Hendaklah mulut ini mengucapkan kata-kata yang manis di telinga. Kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama.
Mulut merupakan salah satu potensi terbesar yang dapat mengeratkan suatu relasi atau sebaliknya merenggangkan sebuah relasi yang baik. Relasi yang baik seringkali menjadi renggang karena fitnah. Fitnah hanya akan membuat kita kehilangan banyak tenaga, kehilangan banyak waktu berharga, kehilangan teman dan sahabat. Belum tentu apa yang kita katakan benar. Dari pada membuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat lebih baik mulut kita mengucapkan kata-kata yang manis di telinga sesama, maka dimanapun kita berada keberadaan kita akan menjadi berkat sebab kata-kata kita sebenarnya menggambarkan bagaimana kita yang sebenarnya.
3. Menegur sesama dengan kasih
Menegor berarti menyatakan atau menunjukkan kesalahannya. Melakukan hal ini dengan sungguh-sungguh bukan hanya menunjukkan ketiadaan rasa benci namun juga keinginan agar orang itu bertambah baik. Sebuah kata teguran yang tidak diungkapkan mungkin berarti dorongan bagi orang tersebut untuk terus berbuat dosa sehingga membuat diri sendiri berbuat dosa. Sebab seseorang mungkin saja tidak menyadari kalau ia bersalah sampai ada yang memberitahukan padanya bahwa ia bersalah. Orang yang bijak selalu menegur dan mengkritik dengan menyediakan solusi. Apabila sesuatu menganjal di hati kita, berbicaralah. Itu akan membuat hati kita aman. Sebab menahannya di hati kita akan membuat hidup kita tidak nyaman dan berbeban berat.
4. Mengampuni sebagai bagian dari mengasihi sesama.
Mengampuni berarti tidak menuntut balas dan tidak menaruh dendam melainkan mengasihi. Mengampuni berarti tidak merasa sakit lagi ketika mengingat peristiwa yang melukai kita. Seberapa dalam pun kita disakiti, dikhianati, dibenci, Allah menuntut kita untuk mengampuni. Pengampunan kita pada akhirnya menjadi bukti bahwa kita mengasihi mereka yang menyakiti kita. Kita tidak dapat mengasihi sekaligus membenci seseorang. Dengan mengampuni kita membuktikan bahwa kita memiliki jiwa yang besar untuk dapat mengasihi sesama.
4 hal inilah yang menjadi tindakan-tindakan kasih pada sesama. Tindakan-tindakan kasih seperti ini jugalah yang ditekankan Tuhan Yesus ketika ia menjawab pertanyaan orang-orang Farisi mengenai hukum yang terutama. Kasih kepada Allah dan sesama menjadi hukum yang terutama bukan karena ditekankan pada perasaan kasihnya melainkan pada tindakan-tindakan kasih, artinya kita tidak dapat berkata mengasihi Allah kalau membenci sesama manusia. kasih kepada Allah tercermin dalam kasih kepada sesama. Dalam hal ini Paulus telah memberi kita teladan. Ia mengasihi sesamanya terutama sesama orang beriman. Untuk mereka yang ia kasihi khususnya orang-orang di Tesalonika ia membuktikan kasihnya pada mereka dengan memberi hidupnya bagi mereka: berkorban bagi mereka dan bagi semua jemaat-jemaat kristen yang telah ia dirikan. Ia rela dianiaya dan dihina demi pemberitaan injil yang ia lakukan agar semua orang ia kasihi juga dapat merasakan kasih Tuhan yang besar. Paulus melalui ssebuah jalan yang sulit dan terjal. Tetapi itulah pilihannya. Ia tahu bahwa kewajibannya adalah mengasihi mereka yang dipercayakan Allah padanya. Karena itulah untuk orang-orang terkasih ini Paulus rela berkorban, memberi dirinya bagi mereka.
Dunia kita yang penuh dengan ketidakadilan ini menjadi salah satu alasan kesulitan dalam mengasihi sesama. Sesungguhnya mengasihi itu sakit. Keluar dari sendiri, keinginan diri, mendahulungan kepentingan orang yang kita kasihi. Bagaimana harus mengasihi jika keberadaan kita saja tidak diinginkan? Bagaimana harus mengasihi jika orang-orang memperlakukan kita dengan sangat tidak adil? Bagaimana harus mengasihi jika kitalah yang difitnah? Bagaimana harus mengasihi jika kitalah yang tidak diampuni? Bagaimana harus mengasihi jika pengorbanan kita tidak dihargai? Betapa sulitnya mengasihi sesama. Namun Allah menempatkan kita di tengah-tengah realitas dunia yang seperti ini. Tentu ada maksudnya. Justru dalam keadaan seperti inilah kasih kita diuji. Seberapa dalam kita mengasihi. Kalau Allah memanggil saya dan bapak/ibu saudara/I untuk hidup mengasihi sesama saya percaya tentu Allah juga memperlengkapi kita dengan apa yang perlu untuk melakukan kehendakNya. Allah akan mengaruniakan hati yang tahan menderita dan hati yang cepat mengampuni dan kasih yang besar untuk tetap terus mengasihi.
Tiada kekudusan di hadapan Allah tanpa kasih kepada sesama. Allah menginginkan agar hidup yang saya dan bapak/ibu saudara/I jalani adalah hidup yang kudus. Kekudusan dibuktikan melalui kasih kepada sesama. Hidup kudus ini bukanlah pilihan melainkan kewajiban. Kita terpanggil ke dalam realitas kehidupan masyarakat yang memprihatinkan untuk melakukan sesuatu. Mengasihi. Kasih akan berdampak banyak hal. Kasih tidak pernah gagal. Kasih selalu mendatangkan kebaikan bagi orang yang menerimanya. Kasih tidak mengecewakan. Kasih selalu menerima apa adanya bukan apa adanya. Kasih selalu berkata : apa pun keadaanmu, aku tetap mengasihimu. Kita mengasihi bukan dengan prinsip ‘kasih karena’ atau ‘kasih supaya’ : selalu mengharapkan imbalan dan balas jasa dari kasih yang kita berikan. Melainkan mengasihi sesama menurut prinsip ‘kasih meskipun’ dan ‘kasih walaupun’…. Aku mengasihimu meskipun kamu menyakitiku, aku mengasihimu walaupun kau tidak tidak mengasihiku. Aku mengasihimu apa pun keadaanmu… karena tidak ada kekudusan di hadapan Allah tanpa kasih kepada sesama. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar