Markus 3:1-6
Rumah sakit adalah tempat dimana orang-orang sakit dengan segala jenis penyakit pergi ke sana untuk memperoleh kesembuhan. Banyak yang sembuh namun tidak sedikit juga yang meninggal di rumah sakit. Orang di bawa ke RS tentu dengan harapan akan mengalami penyembuhan. RS diciptakan untuk semua orang, bagi orang miskin dan orang kaya. Sebagian besar RS memiliki visi untuk mengedepankan pelayanan namun pada kenyataan hampir sebagian besar mendahulukan kepentingan administrasi. Adalah sebuah keluarga yang miskin. Anak keluarga tersebut yang masih bayi terserang penyakit. Tubuhnya sudah berwarna biru dan untuk menyelamatkannya ia perlu dioperasi secepatnya. Akan tetapi pihak RS mengatakan belum akan melaksanakan operasi jika administrasi tidak diselesaikan terlebih dahulu, yakni uang muka sebesar Rp 50.000.000,- Sungguh merupakan suatu beban berat bagi keluarga tersebut. Dari mana uang sebanyak itu? Jika saja mereka orang kaya, uang sebanyak itu akan dengan cepat diperoleh. Sementara anak mereka harus dioperasi secepatnya agar dapat tertolong. Keluarga berusaha memberikan uang muka sebesar Rp 10.000.000,- tetapi pihak administrasi tidak mau menerima uang tersebut. Padahal RS tersebut adalah sebuah RS Kristen. Si Ayah lari ke sana ke mari untuk meminjam uang dan akhirnya pada malam hari terkumpullah uang sebesar Rp 50.000.000,- dan operasi dapat dilakukan. Bagaimana jika sang Ayah tidak memperoleh uang sebanyak itu? Mungkin saja anaknya akan mati.
Kasus lain di rumah sakit. Ketika mengetahui anaknya telah meninggal sang ibu berkata pada mayat bayinya. “Nak, kasihan sekali kamu, lahir dari keluarga orang yang tak punya. Jika saja kamu anak orang kaya tentu dokter akan bersedia menolong kamu tadi”. Sangat miris. Berarti sang bayi masih dapat ditolong jika saja Sang ibu memiliki uang yang cukup untuk melengkapi administrasi. Saya menjadi bertanya-tanya: apakah RS menginginkan kematian bagi orang yang tak punya uang dengan mendahulukan administrasi? Apakah para dokter dan staf administrasi tidak memiliki rasa belas kasihan melihat penderitaan keluarga-keluarga miskin yang sangat mengaharapkan keluarga dapat sembuh tetapi tidak memiliki uang yang cukup. Apakah visi RS adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya ataukah melayani pasien agar sembuh? Apakah orientasi RS, uang atau pelayanan?
Pada bangsa Israel juga diberikan Hukum Taurat oleh Tuhan Allah (10 Hukum Allah dalam Kel 20:1-17) untuk mengatur kehidupan mereka dan agar mereka tetap berada di jalan Tuhan. Bacaan kita ini berlatar belakang pada Hukum Taurat orang Yahudi yang menurut Yesus terlalu kaku. Orang Yahudi menghayati Hukum Taurat berisi 613 ketetapan Firman Allah dengan perincian: 248 sebagai perintah yang positif dan 365 sebagai perintah yang bersifat larangan. 613 hukum ini kemudian diatur oleh orang Yahudi dalam dua hubungan, yakni hubungan vertical tentang sikap kepada Allah dan hubungan horizontal tentang sikap kepada manusia. Berpedoman pada hubungan vertical dengan Tuhan maka terdapat aturan-aturan yang berlaku bagi orang Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Akan tetapi sampai pada zaman Tuhan Yesus para ahli taurat dan orang Farisi tidak lagi melihat esensi dari hukum tersebut. Mereka malah menerapkannya secara kaku. Orientasinya adalah tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Sedangkan mereka sendiri tidak mampu menjalankan apa yang mereka larang. Mereka berusaha menjaga tradisi tetapi dengan tidak melihat kebutuhan orang lain.
Suatu kali Tuhan Yesus masuk ke rumah ibadat (sinagoge) untuk mengajar seperti biasanya. Di sana ia melihat seorang yang sedang sakit, mati sebelah tangannya. Menurut peraturan Hukum Taurat pada hari Sabat orang tidak boleh melakukan pekerjaan pada hari Sabat (Kel 20:8-11, Kel. 31:12-17), dilarang menuai dan mengirik (ini mencakup memetik bulir gandum dan mengisarnya dengan tangan bdk. Lukas 6:1-2), "Seperjalanan Sabat jauhnya" (Kisah 1:12; kira-kira dua pertiga mil/1 km) adalah jarak maksimum yang boleh ditempuh pada Hari Sabat. Pada intinya orang-orang Yahudi dilarang melakukan pekerjaan pada hari Sabat. Ketika Tuhan Yesus melihat orang sakit tersebut, orang-orang Farisi mulai berjaga-jaga untuk mengetahui apakah tindakan Yesus terhadap orang sakit tersebut. Yesus malah menyuruh orang sakit itu untuk berdiri di depan dan bertanya pada semua orang yang hadir disitu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang? Mereka tidak dapat menjawab Yesus sebab jika mereka menjawab berbuat baik, mereka akan mengingkari peraturan Sabat. Jika mereka menjawab berbuat jahat mereka lebih salah lagi karena mereka adalah pemuka-pemuka agama. Karena itulah mereka lebih memilih untuk diam saja.
Yesus ingin menegaskan kepada mereka bahwa nyawa seseorang jauh lebih penting dari pada sekedar penerapan Hukum yang kaku. Sebagai pemimpin agama, orang-orang Farisi mula-mula menjalankan segenap tuntutan Taurat dengan sungguh-sungguh. Kemudian karena tidak sanggup, mereka mulai bertindak secara lahiriah saja. Akhirnya mereka menjadi orang yang sangat munafik. Tidak lagi melihat Hukum Taurat yang diberikan oleh Allah sebagai sebuah hukum yang digunakan untuk kebaikan manusia malah sebaliknya, menerapkan hukum yang kaku yang justru mencelakakan manusia. Yesus menawarkan pilihan apakah mereka lebih senang melihat seseorang menderita dengan tidak menyembuhkannya bila ada kesempatan atau memilih untuk menyembuhkannya dengan tidak bersifat kaku terhadap hukum yang ada. Tujuan Allah memberikan hukum adalah agar dengan hidup sesuai dengan hukum itu manusia memperoleh keselamatan, sehingga sikap Yesus sebenarnya adalah sebuah tindakan yang menggambarkan tujuan dari dibuatnya hukum tersebut. Mereka mengabaikan apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh orang tersebut yang mereka pikirkan hanyalah melihat sikap dan tindakan Yesus yang dapat mereka jadikan alasan untuk menyalahkannya sehingga orientasi mereka bukan pada kebutuhan orang melainkan mencari kesalahan Yesus.
Tuhan Yesus malah marah terhadap sikap hati mereka yang keras, labih peduli pada hukum dari pada apa yang menjadi kebutuhan orang sakit tersebut. Lebih mementingkan hukum daripada manusia. padahal hukum diciptakan agar manusia dapat hidup dengan baik yang terjadi malah sebaliknya manusia melayani Hukum. Tuhan Yesus juga marah karena mereka salah memahami Hukum taurat. Yesus kemudian menyembuhkan orang sakit itu dengan berkata : ulurkanlah tanganmu. Orang-orang Farisi tidak menerima sikap dan tindakan Yesus sehingga mereka keluar dari sinagoge untuk bersekongkol dengan orang Herodian (Mereka ini bukan suatu organisasi keagamaan, melainkan suatu organisasi politik yang membela dan mempertahankan kedudukan Herodes. Orang Farisi pada umumnya sangat membenci mereka, karena mereka adalah orang Yahudi yang mendukung penuh pemerintah jajahan) untuk membunh Yesus.
Orientasi orang-orang Farisi adalah bagaimana memelihara hukum dan bukan pada melayani kebutuhan manusia. Mereka sudah salah menerapkan Hukum ditambah lagi dengan berusaha mencari kesalahan Tuhan Yesus untuk menyudutkan-Nya dan membenarkan sikap dan tindakan mereka sendiri. Mereka melakukan 2 kesalahan sekaligus. Sama halnya dengan contoh kasus di atas. RS lebih mendahulukan kepentingan administrasi dari pada menyelamatkan nyawa orang. Seringkali usaha untuk berpegang pada peraturan yang ada membuat kita lupa akan hal yang paling utama dan penting. Untuk apa dibuat sebuah hukum atau peraturan kalau pada akhirnya ia tidak mampu melayani kebutuhan manusia?
Bagaimana dengan kita?
Apa yang menjadi orientasi kita? Mungkin ada peraturan/hukum yang kita buat dalam keluarga/gereja kita. Atau kita tidak setuju terhadap pemikiran dan tindakan seseorang yang jauh lebih maju dari kita? Apakah kita juga akan bertindak seperti orang-orang Farisi? Berusaha mencari kesalahan Yesus supaya dapat menyalakan-Nya? Yang dibuat Tuhan Yesus adalah hal yang benar dan baik. Jika diperhadapkan pada situasi dilematis seperti itu, hal yang diinginkan oleh Tuhan untuk kita lakukan adalah mendahulukan kebaikan untuk orang tersebut dalam hal ini memberikan apa yang menjadi kebutuhannya. Dalam hal administrasi keluangan di RS. Seseorang yang telah sekarat, meskipun peraturan RS mengharuskan untuk menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, saya rasa adalah ebih bijak kita terlebih dahulu menolong nyawanya daripada menunggu sampai ia membereskan administrasi. Sebab nyawa orang tersebut jauh lebih penting dari berapa pun uang yang ada. Jika ia mati, berapapun uang kita yang ada tidak akan mampu membeli nyawa. Menjadi pilihan bagi kita saat ini: apakah kita lebih mengutamakan peraturan yang kaku atau meyalani kebutuhan sesama kita?
Belajar dari Tuhan Yesus marilah kita lebih peka terhadap kebutuhan sesama kita. Menjadi lebih berbelas kasihan terhadap orang-orang di sekitar kita. Sebab itulah yang diinnginkan Allah untuk kita lakukan. Banyak orang kehilangan kesempatan berbuat baik karena ketaatan yang kaku terhadap peraturan yang ada. Jangan sampai kita menjadi salah satu di dalamnya. Contoh kasus di Koran hari ini. Di Cina seorang anak ditabrak lari oleh sebuah mobil. 18 orang hanya melewati anak tersebut tanpa menolongnya. Orang ke-19 yang adalah seorang pemulunglah yang tidak kehilangan kesempatan untuk menolongnya. Bahkan kesediaannya menolong pun dinilai sebagai sebuah alasan publisitas oleh seorang pengamat. Pengamat ini saya rasa cocok jika digolongkan dalam golongan orang Farisi. Tidak gampang berbuat baik, karena penuh dengan resiko. Di dalam Tuhan Yesus, Allah telah memberi kita teladan dan kiranya Allah yang sama memampukan kita dengan kebijaksanaan-Nya untuk dapat melakukan kehendak-Nya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar