Jumat, 04 November 2011

MENGASIHI BERARTI SIAP MENGAMPUNI


RENUNGAN DOA PAGI
Lukas 15:11-32
            Sebuah kisah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Sekalipun sudah sering didengar kali ini kita akan belajar salah satu sisi dari cerita ini yakni mengasihi berarti siap mengampuni. Kisah ini mendapat julukan injil di dalam injil karena secara umum menggambarkan hidup manusia yang berbuat dosa pergi jauh dari hadapan Allah dan bagaimana kasih Allah yang besar tetap setia menanti anak-anaknya kembali kepadaNya.
            Orang tua siapa yang tidak marah ketika masih hidup anaknya sudah meminta warisan. Itu sama saja dengan mendoakan orangtuanya mati cepat. Itulah hal yang dialami sang ayah dalam Mat 15:11-32. Namun meskipun demikian, sang Ayah tetap meluluskan permintaan anaknya. Semua harta benda di bagi sama rata dengan kakak sulungnya. Mengasihi berarti memberi. Tentu hati sang ayah sakit melihat kenyataan bahwa warisan sudah dibagi sementara ia sendiri masih hidup, bagaimana mungkin anaknya tega melakukan hal ini terhadap ayahnya. Belum lagi sakit hati sang ayah hilang semua harta benda tadi telah dijual sang anak. Dalam sekejap harta benda milik sang ayah telah berganti tangan menjadi milik orang lain. Mengasihi berarti siap disakiti. Sungguh tak dapat dipercaya. Anak bungsunya pergi ke negeri yang jauh meninggalkan dia. Mengasihi berarti siap kehilangan. Tiap hari sang ayah menanti kepulangan si bungsu. Tapi si bungsu tak kunjung datang. Sang ayah harap-harap cemas menanti anaknya pulang. Sudah lupakah anaknya terhadap kampung halamannya? Sudah lupakah si bungsu terhadap kakak dan ayahnya? Atau sudah berhasilkah ia di tanah orang sehingga tidak lagi berniat untuk kembali? Mengasihi berarti menanti dengan sabar.
            Sementara ditempat lain seperti dikisahkan dalam bacaan tadi, sang anak berfoya-foya menghabiskan harta miliknya sampai ia jatuh melarat. Ia sampai pada titik dimana ia merindukan ayahnya, rumahnya, dan betapa tidak menyenangkan berada jauh di tanah orang, sedangkan di rumah bapaknya ia jauh lebih terjamin sekalipun hanya sebagai seorang pelayan ayahnya. dengan harapan akan diterima kembali oleh ayahnya ia pun kembali.
            Sang ayah ternyata memiliki cinta tanpa batas. Betapapun ia telah memberikan hartanya, ia disakiti, dan kehilangan anaknya karena mengasihi ia tahu bahwa mengasihi juga berarti mengampuni dan menerima kembali. Tentu si bungsu tidak pernah memperkirakan bahwa penyambutan ayahnya sedemikian hebatnya. Ini benar-benar diluar prediksi si bungsu. Si bungsu tidak mengerti kedalaman kasih sang ayah. Sementara sang ayah tahu benar apa arti mengasihi. Ia tahu bahwa mengasihi berarti siap merasa sakit dan siap juga memberi pengampunan dan menerima kembali. Ia sadar benar bahwa orang-orang terdekatnyalah yang paling berpotensi menyakitinya paling dalam. Karena itu ia telah mempersiapkan cinta yang lebih dalam lagi, melebihi rasa sakit yang diterimanya. Cinta yang besar itulah yang pada akhirnya membuat ia mampu mengampuni si bungsu. Bahkan ketika anaknya yang sulung juga menyakitinya. Sulung tidak mengerti bahwa ayahnya ingin ia merasakan kegembiraan yang sama ketika anak yang selama ini dirindukannya telah kembali. Sulung malah mrah besar terhadap ayahnya. tapi sekali lagi sang ayah sadar orang-orang yang paling dikasihinyalah, yang selalu ada di dekatnyalah yang paling berpotensi menyakitinya. Karena ia juga tahu ada kasih yang besar di antara mereka. Kasih inilah yang akan memulihkan mereka.
            Kalau begitu, sahabat, orang tua, suami-isteri dan anak-anak kitalah yang paling berpotensi menyakiti kita karena ada kasih yang besar diantara kita dan mereka. Jika kita menyadari ini maka kita pun akan tahu bagaimana seharusnya mengasihi. Mengasihi berarti memberi. Mengasihi berarti siap disakiti. Mengasihi berarti siap kehilangan. Mengasihi berarti menanti dengan sabar. Mengasihi berarti siap mengampuni dan menerima kembali. AMIN.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar